Pada suatu hari tepatnya pada hari Minggu tanggal 12 April 1992 terlahir seorang anak yang terlahir disebuah kampong pedalaman Mauludin Anwar Nasrulloh atau panggilan akrabnya adalah Away itulah nama saya.
Pada saat umur saya menginjak 11 tahun dan waktu itu saya telah berhasil menamatkan pendidikan di sekolah dasar lalu ibu saya bertanya ke saya “Way bade dilajengkeun sakola kamana?” (Way mau dilanjutin sekola kemana?) lalu saya menjawab “Teu lankung umi wae.” (terserah ibu aja) tiga hari kemudian saya dipanggil oleh kedua orang tua saya. Lalu mereka dikata “lamun Away abus ka pondok pesantren kumaha? (klo kmu masuk ke ponpes gimana?) lalu saya jawab “ahh eta mah terserah umi wae bade abus ka pondok mangga, bade ka SMP luar ge wios” (mau masuk pondok ayooo.. mau masuk SMP luar gapapa) dan pada akhirnya dibulatkanlah tekad yang tinggi orang tua saya untuk memasukan saya ke dalam pondok pesantren.
Enam tahun sudah berlalu saya di pondok pesantren dalam waktu enam tahun tersebut banyak sekali cerita, pengalaman serta ajaran dan pendidikan di pondok pesantren yang membuat saya mengerti apa arti dari sebuah kehidupan, pendidikan, pengajaran, persahabatan serta kebersamaan.
Tahun pertama saya di podok pesantren amat sangat tidak merasa betah sekali, ketika saya melapor kepada orang tua saya. “Pak,, Mii,,,, Away teu betah di pondok” (Pak,,, Bu…. Away ga betah di pondok) lalu orang tua saya menjawab “lamun maneh teu betah di pondok, terus kaluar ti pondok, sok mangga kaluar. Tapi tong nincak imah ieu deui” (klo kamu ga betah di pondok terus keluar dari pondok silahkan saja, tapi jangan menginjakkan kaki lagi di rumah ini).
Dengan mendengar jawaban itu dari kedua orang tua saya, sayapun langsung menyadari apa yang telah diperintahkan oleh orang tua itu pasti adalah sebuah kebaikan dan sebuah pendidikan maka dari itu saya kembali dan bertekad untuk tetap menuntit ilmu di pondok pesantren.
Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan bahkan tahun demi tahun terlewati dengan rintangan dan cobaan. Singkat cerita, tahun ketiga ada suatu halangan saya merasa tidak betah kembali lalu akhirnya saya kabur dari pondok untuk satu hari bermain di luar pondok. Ketika saya kembali ke pondok secara diam-diam, saya dipanggil ke bagian penghukuman dan saya pun ketahuan kalo saya sudah keluar pondok tanpa izin.
Pada saat masuk bagian penghukuman saya sangat merasa takut karena bagian keamanan yang bergerak dalam penghukuman tersebut amat sangat menakutkan sekali saya mendapat hukuman bersama teman sejawat yang kabur dari pondok bersama saya. Kami mendapatkan hukuman yang lumayan memalukan, kepala kami dicukur botak. Sehingga membuat kami kapok untuk tidak mengulangi kesalahan kami yang serupa yang membuat kami malu, serta memaksa kami untuk memakai penutup kepala kemanapun kami pergi. Namun, hal itu benar-benar membuat kami tidak mau mengulanginya lagi. Akhirnya kami pun berjanji bahwa kami tidak akan pernah kabur dari pondok lagi.
Tahun ke empat di pondok pesantren adalah tahun yang sangat menyenangkan, tahun itu adalah tahun dimana rasa puberitas saya mulai muncul, dengan rasa puberitas tersebut saya dan teman saya tersebut sepakat untuk mencari pasangan (pacar). Namun, kita berpacaran dengan orang luar pondok, setelah genap enam bulan berpacaran, teman saya tertangkap basah oleh bagian keamanan yang sedang berjalan jalan berdua dengan pacarnya. Untungnya waktu itu saya tidak diajak olehnya. Dan dia pergi berpacaran tanpa diketahui oleh saya dan akhirnya teman sekaligus sahabat tersebut dipanggil kembali oleh bagian penghukuman lalu dia ditanya oleh si penghukum “Sebutkan siapa saja yang berhubungan dengan orang luar pondok ?” Namun, teman saya tidak mengaku kalau saya juga berpacaran dengan orang luar pondok dan pada akhirnya, teman saya di skorsing dari pondok selam dua bulan. Selama masa skorsing tersebut saya merasakan hal yang sangat berbeda, ketika tidak ada seorang teman sekaligus sahabat itu tidak disamping saya, tidak merasakan kesenangan dan penderitaan serta kebersamaan lagi. Namun ketika masa skorsing telah habis yang seharusnya dia kembali ke pondok tapi dia tidak kunjung datang juga. Akhirnya saya meminta izin kepada pihak pondok untuk pulang dan beralasan bahwa saya aka nada acara keluarga. Ketika surat izin sudah ditangan saya langsung pergi menuju rumah teman saya tersebut. Sesampainya saya disana ternyata dia tidak ada dirumahnya lalu saya bertanya kepada ibunya, ibunya menjawab “dia lagi sekolah”. Mendengar jawaban dari ibunya hati dan mata ini mulai berlinang, saya ingin bertemu dengannya. Akhirnya saya menunggu dia pulang dari sekolahnya. Sampailah dia pada jam 13:30, ketika dia sampai didepan rumahnya, aku langsung menghampirinya lalu memeluknya seraya menjatuhkan air mata. Lalu saya bertanya kepadanya”kenapa ente gak masuk ke pondok lagi ?” dia menjawab “maaf sob, ane gak kuat lagi di pondok ketika ane diskors, satu minggu kemudian ane langsung sekolah di smu luar, maaf ya sob…ente jangan keluar dari pondok ya ! Ane mah udah gak kuat dan gak bisa membuktikan ke orang tua ane, kaloa ane bisa lulus dari pondok tapi kenyataannya, ane malah di skors. Ya udah apa boleh buat ane maksain buat keluar dari pondok, ane malu balik ke pondok lagi. Sekarang tinggal ente yang harus berjuang di pondok jangan sampe seperti ane, ane yakin ente bisa lulus dari pondok tanpa harus dapet kasus-kasus lagi yang udah kita lewatin bareng-bareng dulu. Lupain aja kenangan buruk kita di pondok, banggain orang tua ente insya Allah kalo ente nanti lulus dari pondok pas nanti ente wisuda ane pasti dating buat nyaksiin ente wisudaan. Dari perkataannya saya mendapatkan suatu motivasi darinya, teman yang sangat dekat, yang merasakan suka-duka bersama kini akhirnya pergi dari pondok dan saya pu merasakn pedihnya kepergian seorang sahabat tersebut lalu, saya bertekad dan berjanji padanya saya tidak akan berbuat onar lagi dipondok. Dan saya berjanji saya harus lulus dan dapat membanggakan orang tua saya serta orang-orang yang saya sayangi. Singkat cerita tiba saatnya saya memasuki tahun keenam di pondok. Di tahun keenam itulah tahun terakhir di pondok. Dan tepatnya pada tanggal 22 juni 2010 saya di wisuda dan di saksikan orang tua dan keluarga serta sahabat saya. Selesai penyamatan dan acara wisuda saya langsung menghampiri kedua orang tua dan keluarga lalu memeluk mereka seraya mengeluarkan air mata. Tak lama kemudian datanglah sahabat saya dan berkata “ane bangga ma ente, ane bangga sama ente, ente hebat bisa lulus tanpa ada kasus” lalu saya menjawab “ini semua berkat motivasi ente, tanpa motivasi dari ente, kayaknya ane gak bakal bisa lulus dari pondok ini” kemudian kami bersalaman gaya anak muda masa kini, sambil berpelukan seraya mengatakan dengan sangat tegas “WE ARE BEST FRIEND FOREVER”